Rasanya Tergusur (1)

“Cepat kemasi barang-barang kamu, No!” perintah ayah.
Dengan sigap Reno memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, termasuk buku-buku sekolahnya.
“Kampung kita akan digusur juga. Sudah ada buldozer di kampung sebelah,“ jawab ayah.

Suasana sore itu sangatlah mencekam. Keluarga Reno dan tetangga lain, tampak sibuk berkemas-kemas. Perkampungan mereka itu akan dibeli oleh kantor pengembang untuk dijadikan perumahan. Namun penduduk kampung tidak mau karena bayarannya sangat murah. Dengan uang itu, jangankan untuk membeli rumah baru di tempat lain, untuk mengontrak rumah saja tidak cukup.
Akan tetapi karena penduduk kampung tidak memiliki surat kepemilikan tanah, mereka pun dianggap sebagai penghuni liar. Reno mendengar kabar bahwa perkampungan itu akan dibakar Reno sangat gelisah.
“Bu… Kalau rumah kita digusur, kita akan tinggal dimana?” tanya Reno sedih.
“Kita bisa menempati rumah yang di Bekasi, No,” jawab ibu.
“Tapi kan rumah itu belum rapi, lagi pula bagaimana dengan sekolah Reno?”
“Jangan memikirkan itu dulu. Yang penting sekarang kita selamatkan duiu barang-barang ini. Mudah-mudahan ayahmu mendapatkan truk untuk mengangkut barang-barang kita,” sahut ibu.
“Bagaimana dengan teman-temanku? Mereka akan tinggal dimana? Mereka kan tidak punya rumah lagi!” gumam Reno sendirian.

Saat sedang melamun, tiba-tiba terdengar teriakan seorang tetangganya.
“Buldozer datang..,.! Buldozer datang.”

Penduduk kampung yang sedang berjaga di pos keamanan sedari malam segera menyerbu ke arah suara itu. Dan benar saja, enam buldozer besar, lengkap dengan petugas keamanan berwajah garang berjejer rapi di muka Kampung. Reno yang melihat dari kejauhan merasa ngeri. Sepertinya akan ada peperangan kecil hari itu. Ia dan keluarganya akan pergi saat itu namun Ayah merasa tidak enak pada para tetangga sehingga ia dan ibunya hanya bersiap-siap saja.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu … kami peringatkan sekali lagi untuk segera meninggalkan tempat ini. Jika tidak..,” ujar pimpinan petugas itu dengan pengeras suara.
“Jika tidak, kenapa…?” tantang orang-orang kampung.
“Kami terpaksa akan menggunakan kekerasan,” ancamnya.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja batu-batu beterbangan ke arah petugas yang telah siap dengan tameng dan alat pemukulnya. Petugas itu membalas timpukan dengan pukulan. Suasana menjadi kacau balau. Teriakan marah, umpatan, cacian, dan sekaligus tangisan menggema di kampung Reno.

Hadi Pranoto
Sumber: Bobo 29/XXXII 28 Oktober 2004

Bersambung: Rasanya Tergusur (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.