Air Teh Hangat Anak (2)

Segelas Air Teh Hangat (2)

Sambungan: Segelas Air Teh Hangat (1)

Tanpa pamit dan botol minuman, akhirnya aku berangkat ke sekolah untuk berbuka bersama. Aku juga tidak berharap ibu membawa segelas minuman untukku nanti di sekolah.
“Ah, memalukan sekai. Bisa-bisa seisi kelas menertawakanku,” pikirku kesal dalam perjalanan ke sekolah. Ibu benar-benar sangat mengecewakan.
Setiba di sekolah, trnyata sudah banyak siswa yang datang. Aku amati semua membawa makanan yang mahal-mahal serta botol minuman yang bagus-bagus.
Ah, aku merasa sangat minder dan malu karena hanya membawa bekal seadanya.
Tiba-tiba Anto, teman sekelasku yang paling nakal merebut bekal makananku dan membukanya.
“Woi, teman-teman,” teriak Anto.
“Coba lihat apa yang Budi bawa! Ha ha ha.”
Semua pandangan tertuju pada rantangku. Mereka semua penasaran dengan apa yang aku bawa.
“Tempe semur? Nggak ada yang lain apa Bud” Ha ha!” teriak Anto senang.
“Lah sekarang air minumnya mana Bud?”
“Masa buka puasa tidak pakai air minum?” celutuh Kodrin anak buah Anto.
Seluruh kelas menertawakanku. Aduh, benar-benar malu sekali. Rasanya aku ingin tiba-tiba menghilang dari ruangan kelas.
“Assalamualaikum anak-anak,” salam pak Hedra tiba-tiba memasuki kelas.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.” jawab teman-teman kelasku seraya berlarian ke tempat duduk masing-masing.
Ah, beruntung sekali pak Hendra datang, aku jadi tidak berlama-lama ditertawakan Anto.
“Baiklah, sekarang bapak akan memberikan tausiyah sigkat selagi kita menunggu berbuka puasa,” ujar pak Hendra.
Pak Hendra memberikan tausiyah tentang doa yang dipanjatkan Rasulullah setiap subuh. Karena pak Hendra pintar menyampaikannya, kami memperhatikannya dengan antusias.
“Alhamdulillah akhirnya sebentar lagi waktunya berbuka puasa,” ujar pak Hendra memecah keramaian kami.
Kami terdiam. Lalu aku memberanikan diri untuk mengacungkan jari.
“Ayo Budi, coba baca doanya!”
“Dzahabadh dhomau wabtallatil uruqu watsabbatal.
Aku insya Allah. Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap Insya Allah.

“Wah, benar. Ayo beri tepuk tangan yang meriah untuk Budi!” Teman-teman bertepuk tangan untukku. Kali ini rasanya bangga sekali.
Adzan masjid terdengar berkumandang. Aku bingung karena aku tidak membawa air. Padahal tenggorokan ini benar-benar haus, kering-kerontang. Tiba-tiba muncul ibuku dengan membawakan segelas teh hangat. Dengan segera kuteguk teh hangat buatan ibuku. Ya Allah, betapa nikmatnya meneguk air teh hangat buatan ibuku. Tak terasa air mataku mengalir deras di pipi. Aku memeluk ibuku erat-erat.
“Maafkan Budi ya bu. Budi sudah marah-marah sama ibu. Maaf ya Bu,” ucapku sambil menangis.

Marsubiyanto
Tegal, Jateng

Sumber: Kuntum, 349 Februari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.