Ayah, Hadiah Terindahku (1)

Sore itu hujan berderai di luar rumah. Ayah datang lima menit setelah aku melamun sendirian di sisi jendela kamar. Ia menyodorkan secangkir the untukku, lalu duduk di sampingku. Aku tidak tersenyum membalas Ayah, tahu kalau senyum yang akan tercetak hanya lengkungan palsu semata.

Ayah bertaya, “Kenapa, Nak?” ketika menyadari raut wajahku berbeda. Mulanya aku memilih untuk diam. Membiarkan suara hujan mengisi hening di antara kami. Namun, ketika kulihat mata Ayah benar-benar ingin tahu ada apa denganku, aku mengatakannya. Bilang pada Ayah, aku ingin acara ulang tahun kali ini dirayakan di tempat yang mewah dengan makanan enak dan music keras yang memekakkan telinga. Semua temanku melakukannya. Membeli hadiah mahal untuk diriku sendiri yang harganya setara dua bulan kerja Ayah pagi sampai aku dengar, “Ayah akan berikan apapun yang kamu mau.”

Semenjak itu, Ayah selalu pulang dengan keringat bercucuran dan nafasnya terengah-engah. Setiap aku Tanya apa yang terjadi dengannya. Ayah tidak menjawab dan memilih untuk lekas tidur karena kelelahan. Hari berikutnya, aku melihat motor Ayah terparkir di lapangan parker dekat pasar, tapi bukan di pangkalan ojek. Keningku berkerut, “Apa yang Ayah lakukan?”

“Ini uang yang bisa Ayah kumpulkan, cukup?’ ini adalah malam entah ke berapa setelah Ayah selalu pulang dengan nafas terengah-engah dan motor yang tidak dibawanya saat ia bilang akan kerja.
Aku melihat uang yang muncul dari balik amplop coklat yang Ayah berikan. Jumlahnya lebih dari cukup untuk acara ulangtahunku dan membeli hadiah untuk aku sendiri. Aku tertegun, “Ayah, semua uang ini dari mana?”
“Ayah mengerjakan banyak pekerjaan selama ini. ”Airmataku turun. Ayah memelukku.

Dina Fadilah Salma
Yogyakarta

Sumber: Kuntum, 370 November 2015

Bersambung: Ayah, Hadiah Terindahku (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.